Find out here

Memuat...

Selasa, 30 Oktober 2012

“Berita Kepada Kawan”, Lagu yang menyentuh..


Perjalanan ini
Trasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk
Disampingku kawan

Banyak cerita
Yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan

Tubuhku terguncang
Dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap
kering rerumputan

Perjalanan ini pun
Seperti jadi saksi
Gembala kecil
Menangis sedih ...

Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika di kutanya mengapa
Bapak ibunya tlah lama mati
Ditelan bencana tanah ini

Sesampainya di laut
Kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak
Kepada matahari

Tetapi semua diam
Tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri
Terpaku menatap langit

Barangkali di sana
ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana

Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang

Siapa yang tak kenal lagu “Berita Keapda Kawan” milik Om Ebiet. G. Ade ini? Aku ingat betul ketika aku mulai bertanya masa SMA Bapak, atau Bapak mencium bau – bau nama SMA Muhi Jogja disebut, dengan bangga dan rendah hati Bapak akan bercerita bahwa Bapak adalah adik kelas Beliau. Menajdi seperti Beliau merupakan salah satu cita – cita Bapak yang BESAR. Bapak pintar membuat puisi, lagu, dan pintar memb uat suasana yang tegang dan menyedihkan menjadi wagu dan tawa. Bapak sudah berusaha mengorbitkan lagu dan puisi – puisinya, mungkin sekarang belum jalannya, esok mungkin.
            Tak tahu kenapa mendengar suatu lagu yang pernah aku dengar di masa lampau bisa membawaku secepat itu kembali ke masa itu. Apalagi jika ada kenangan, kecelakaan, atau kejadian yang istimewa.
Lagu ini, menurutku, mencoba mengingatkan kita untuk selalu bersyukur pada-Nya, pada semua nikmat-Nya yang kita lewatkan dan kita acuhkan ini. Itu salah satu pesan Bu Tutik, guru Bahasa Indonesia ku sewaktu SMP. Pertama kali aku bersemangat memuisikan lagu ini adalah ketika pelajaran Bu Tutik ini. Aku sangat ingat, wajah Beliau begitu antusias mengajarkan aku dan teman – teman menghayati sebuah puisi. Bukan sekedar puisi, tapi juga pesan alam yang dititipkan lewat inspirasi Om Ebiet ini. Terutama, mengingatkan kita akan Tsunami Aceh 26 Desember 2006 silam.
            Ketika pelajaran Beliau ini, aku negitu bersemangat ingin menyanyikannya di depan kelas. Aku menunggu disaat namaku dipanggil untuk maju. Namun sayang, namaku tak dipanggil hingga ktia semua terlihat bosan membacakannya di depan kelas. Kemudian Bu Tutik mengajak kita untuk menyanyikannya bersama – sama. Aku tidak keras suaranya, aku menghayati dan merasakan seandainya kita, atau teman dekat kita ada di Tsunami Aceh waktu itu. Hatiku miris. Begitu banyak duka dan luka, menggubrak kita untuk melihat ke Atas, Dia tidak pernah tidur, Kawan. Banyak yang kehilangan, banyak yang bertakbir, banyak yang menangis meronta, aku iba. Mungkinkah Tuhan memang sedang marah kepada kita karena keangkuhan, kekufuran, kemunafikan kita ke banyak orang? Aku yang masih kelas 6 SD ketika peristiwa itu terjadi pun hanya tahu satu: Tuhan sedang menyapa kita. Dan aku selalu menangis ketika TV menayangkan peristiwa itu lagi.
            Pastilah sedih, sakit perasaan mereka yang di Aceh.
           
Tuhan, aku tahu Kau Maha Penyayang, maka.. jagalah mereka yang Engkau selamatkan, dan lindungilah mereka yang Engkau ambil dari panasnya neraka. Begitulah pemikiranku sewaktu kecil dulu. 

2 komentar:

Cendy Apsari mengatakan...

Nice Post! Saya juga suka lagu ini~ :D

Shafira dwicahyani mengatakan...

hehe, iya ini lagu menyentuh banget yak. kita jadi terbawa ke kesenduannya jga :')